BANDUNGAN – Istilah Malam Keakraban atau yang akrab disebut “Makrab” biasanya menjadi agenda wajib bagi mahasiswa di lingkungan kampus. Namun, ada yang berbeda dengan Lingkungan Yohanes Paulus II. Mereka berhasil membawa vibes keseruan Makrab ini ke level yang lebih inklusif, yakni untuk anak-anak usia Pendampingan Iman Anak (PIA) dan Pendampingan Iman Remaja (PIR).
Kegiatan yang penuh kehangatan ini dilaksanakan pada tanggal 14-15 Februari di Villa Okayo, Bandungan. Meski melibatkan rentang usia yang sangat jauh, acara ini terbukti sukses menjadi wadah bonding yang sangat efektif bagi warga lingkungan.
Mencairkan Suasana: Dari Canggung Jadi Solid
Peserta yang ikut serta dalam kegiatan ini benar-benar datang dari berbagai kalangan usia, mulai dari adik-adik TK, SD, hingga rekan-rekan SMP, SMA, bahkan mahasiswa. Pada awal acara dimulai, sempat terlihat pemandangan yang wajar: para peserta cenderung hanya berkumpul dengan teman-teman sebayanya. Hal ini dipicu oleh perbedaan topik pembicaraan yang biasanya ditemui di tiap jenjang usia masing-masing.
Namun, situasi “dingin” tersebut tidak bertahan lama. Panitia sudah menyiapkan skenario agar tidak ada peserta yang asyik dengan circle-nya sendiri. Caranya, tiap peserta digabungkan ke dalam kelompok-kelompok kecil yang berisi campuran berbagai usia. Meskipun awalnya terlintas kekhawatiran akan adanya rasa canggung saat berinteraksi dengan mereka yang usianya jauh berbeda , seiring berjalannya waktu, komunikasi pun mulai mengalir dengan sendirinya.
Aksi Talent Show dan Jargon yang Bikin Pecah
Salah satu momen yang paling menunjukkan keakraban peserta adalah saat sesi Talent Show. Di panggung ini, setiap kelompok berlomba-lomba menunjukkan kekompakan mereka melalui berbagai kreativitas, mulai dari gerakan, nyanyian, hingga teriakan jargon-jargon yang unik.
Keseruan ini ternyata bukan hanya formalitas belaka. Bahkan setelah sesi ibadah Misa selesai, semangat peserta tidak luntur sedikit pun. Mereka tetap terlihat kompak dan antusias meneriakkan jargon utama mereka, membuktikan bahwa kedekatan yang terjalin sudah sangat solid.
Misi Pak Jupeni: Mengenalkan Gereja Sejak Dini
Bapak Jupeni, selaku Ketua Lingkungan Yohanes Paulus II, mengungkapkan rasa syukurnya karena acara ini berjalan sesuai dengan harapan lingkungan dan tujuan yang diusulkan oleh panitia. Fokus utama kegiatan ini adalah memperkenalkan Gereja kepada generasi muda sedini mungkin.
“Ini memang kegiatan kita fokuskan agar mereka minimal saling kenal dulu,” ujar Pak Jupeni.
Beliau juga menekankan bahwa kegiatan seperti ini harus terus berlanjut untuk menunjang keterlibatan anak-anak dalam kegiatan gereja di masa depan. Harapannya, pengalaman ini akan menjadi core memory bagi anak-anak bahwa mereka pernah mengikuti rekoleksi yang bermanfaat bagi perjalanan hidup mereka nantinya.
Harapan Romo Bene: Menjadi Influencer bagi Lingkungan Lain
Romo Bene yang turut hadir juga memberikan apresiasi setinggi langit terhadap inisiatif ini. Menurut beliau, acara ini sangat luar biasa karena masa depan Gereja sangat bergantung pada peran aktif anak muda di tingkat lingkungan.
Beliau berharap agar Lingkungan Yohanes Paulus II bisa menjadi volunteer sekaligus influencer bagi lingkungan atau wilayah lain agar ikut menggerakkan anak muda mereka. Lebih lanjut, Romo Bene berpesan agar lingkungan ini terus mengadopsi nilai-nilai Ardas Keuskupan:
- Bahagia: Merasakan sukacita dalam hidup menggereja.
- Menginspirasi: Menjadi sosok yang mampu memberi contoh bagi pihak lain.
- Menyejahterakan: Memahami bahwa orang lain membutuhkan bantuan kita, bukan sekadar soal materi.
Dengan suksesnya Makrab ini, Lingkungan Yohanes Paulus II telah menanamkan benih kebersamaan yang kuat. Harapannya, semangat “Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan” ini terus berkobar di hati seluruh peserta hingga kembali ke rutinitas masing-masing.
